, ,

Kades Neglasari Akhirnya Buka Suara Soal Penolakan Pinjam Ambulans Puskesmas

oleh -572 Dilihat

Desa Neglasari Geger! Mobil Ambulans Puskesmas Ditolak Pinjam untuk Warga Kejang, Kades: “Ini Kondisi Darurat!”

Banjar- Kepala Desa Kades Neglasari di Kota Banjar, Jawa Barat, akhirnya angkat bicara menanggapi insiden penolakan peminjaman mobil ambulans Puskesmas Banjar 2 yang menuai protes. Insiden ini terjadi saat seorang warga mengalami kondisi kritis dan membutuhkan pertolongan segera ke rumah sakit.

Kades Neglasari Akhirnya Buka Suara Soal Penolakan Pinjam Ambulans Puskesmas
Kades Neglasari Akhirnya Buka Suara Soal Penolakan Pinjam Ambulans Puskesmas

Baca Juga : Angka Kematian Ibu Peningkatan Tragis Pada 2025

Kades Neglasari, Setiaman, menjelaskan kronologi kejadian yang berlangsung. Saat itu, sedang berlangsung dua kegiatan penting secara bersamaan: Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa) dan pelayanan keliling dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) yang digelar di depan kantor desa.

“Karena fokus saya tertuju pada pelaksanaan Musrenbangdes yang merupakan agenda prioritas, saya tidak bisa memantau secara langsung kegiatan pelayanan Disdukcapil yang berlangsung dadakan,” ujar Setiaman, membuka cerita.

Warga Senior Kejang, Situasi Berubah Mendadak

Kegiatan Musrenbangdes pun berakhir. Namun, ketenangan setelah acara langsung terusik oleh kabar burung yang membuatnya kaget. Ia mendapat laporan bahwa seorang warga senior, Bapak Dede (65 tahun), tiba-tiba mengalami kejang dan pingsan saat mengikuti pelayanan Disdukcapil.

“Begitu kegiatan selesai, saya langsung dapat informasi ada warga yang pingsan dan kondisinya kritis. Ternyata Bapak Dede mengalami kejang-kejang. Situasi saat itu sangat mencemaskan dan mengharuskan kami bertindak cepat,” terang Setiaman tegas.

Upaya Mendapatkan Ambulans Dihadang Aturan SOP

Menghadapi kondisi darurat tersebut, Kepala Dusun Cilengkong yang berada di lokasi bersama Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) segera mengambil inisiatif. Mereka menghubungi Puskesmas Banjar 2 untuk meminta bantuan peminjaman mobil ambulans guna mengangkut Bapak Dede ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Banjar.

Namun, respons dari Puskesmas justru mengejutkan. Permintaan bantuan itu ditolak dengan alasan klasik: tidak ada sopir yang bertugas saat itu.

“Mendengar alasan itu, Bhabinkamtibmas dengan sigap menawarkan diri untuk mengemudikan ambulans. Beliau bersedia menjadi sopir agar warga kita bisa tertolong,” jelas Kades Setiaman. “Namun, sekali lagi pihak Puskesmas menolak. Alasan yang dikemukakan adalah hal tersebut dinilai tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).”

Kades Pertanyakan Fleksibilitas dalam Keadaan Darurat

Setiaman mengaku memahami pentingnya SOP sebagai pedoman kerja. Akan tetapi, ia menekankan bahwa dalam situasi genting yang menyangkut keselamatan jiwa, seharusnya ada fleksibilitas dan pertimbangan kemanusiaan yang lebih diutamakan.

“Kami di desa ini paham aturan. Tapi ini soal nyawa warga yang sedang dalam bahaya. Bukankah aturan bisa dikesampingkan sementara untuk hal-hal yang bersifat darurat dan mendesak?” tandasnya dengan nada prihatin.

Ia juga menyampaikan kekecewaannya dengan membandingkan sikap gotong royong yang selalu dijunjung tinggi di tingkat desa. “Saya sering sekali meminjamkan mobil dinas desa untuk kepentingan warga, baik untuk mengantar warga sakit maupun keperluan pemakaman. Itu kami lakukan dengan ikhlas karena ini adalah tugas kami untuk melayani,” tambahnya.

Akhir Cerita: Warga Diantar dengan Mobil Pickup

Setelah penolakan tersebut, akhirnya datang dua orang petugas Puskesmas Banjar 2 ke lokasi kejadian. Namun, pada saat itu, keputusan telah diambil. Melihat kondisi yang tidak kunjung membaik dan waktu yang terus berjalan, keluarga dan warga memutuskan untuk mengangkut Bapak Dede menggunakan mobil pickup pribadi.

“Ketika petugas Puskesmas datang, saya sudah bilang, ‘Tidak usah, silakan pulang. Kami akan bawa sendiri ke rumah sakit’. Pemeriksaan di tempat pada saat itu dirasa sudah tidak relevan lagi karena yang dibutuhkan adalah penanganan medis intensif di UGD,” pungkas Kades Setiaman.

Insiden ini menyisakan pertanyaan besar tentang esensi pelayanan publik yang seharusnya mengutamakan keselamatan dan kepentingan warga, terutama dalam momen-momen kritis yang menentukan.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.